Lingkungan Versus DUIT

Saturday, October 4, 2008 19:02
Posted in category Lingkungan Hidup
Glona Warming

Global Warming

Pembangunan berkelanjutan jika ini sebuah jargon pemerintah Indonesia memang menjadi sebuah dilema SIMALAKAMA. Apa yang harus dipertaruhkan negeri ini dalam sebuah pembangunan? Jawabannya hanya satu, Lingkungan tempat kita, rakyat Indonesia dimana 200 juta penduduk negeri ini tinggal. Sebuah pengorbanan yang mahal harganya dan memang harus dijaga.

Masalah utama yang di hadapi Indonesia era otonomi daerah ini adalah, sulitnya daerah untuk menginventarisasi sumber daya alam yang bisa memberikan kontribusi untuk Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Dilema apa yang muncul? cobalah kita jawab bersama, “Pendapatan dahulu atau Lingkungan dahulu?” Jika

Money or Environment

Money or Environment

dibenturkan dengan pertanyaan ini memang sulit. Semua hal yang berhubungan dengan UUD (ujung-ujungnya duit) akan memunculkan sebuah konflik tersendiri bagi daerah yang minim dengan PAD-nya.

Akan tetapi jika kondisi ini berlangsung lama “ciloko” (bahaya, bahasa jawa), memang diperlukan sebuah perubahan yang sangat-sangat signifikan. Tidaklah semudah membalikkan telapat tangan. Sekarang ini kita sudah berada pada kondisi sulit, jika kita dahulukan lingkungan “bapak mati” tapi dahulukan UANG “Ibu yang mati”. Lalu apa jalan keluarnya??? Apakah semua itu harus dibiarkan dan kerusakan lingkungan dijadikan hal yang biasa untuk Indonesia.

Saya punya contoh sederhana, dan selalu dijadikan kasus dalam setiap kuliah-kuliah saya. Kita semua tahu apa itu JAKARTA. Sebuah ibu kota negara Indonesia yang notabene penduduknya sudah mencapai 200 juta lebih, dengan kekayaan alam yang sangat melimpah, sumber daya manusia yang sangat produktif, memiliki pemimpin yang kuat dan tangguh (gosipnya), tapi apa yang terjadi dengan Ibu Kota negaranya.

Jakarta Banjir

Jakarta Banjir

Banjir! sungguh memalukan, lebih baik pindahkan Jakarta ke Bandung. Dari pada banjir AIR lebih baik banjir SAMPAH. (ups… sama saja). Malukah kita melihat Ibu kota negara ini banjir, bahkan banyak menelan korban dan kerugian materil. Siapa yang salah?

Tidak ada yang salah, semua terlalu berpikir Antroposentris, semuanya untuk dikaitkan dengan kebutuhan manusia. Apakah dengan pergantian Gubernur baru Jakarta terbebas dengan banjir? Apakah Banjir di Jakarta adalah FENOMENA ALAM? Hanya orang BODOH kalau ada yang menyebutkan Jakarta banjir karena sebuah Fenomena Alam. Banjir di Jakarta bukan sebuah fenomena alam, tapi bencana yang muncul akibat ketidak arifan kita terhadap Lingkungan.

Lingkungan marah, karena sebuah perjanjian dilanggar. Perjanjian apa? Manusia diciptakan sebagai Rakhmatan Lilalamin, untuk menjaga bumi ini dari kerusakan. Kita jangan melihat kebelakang dan mencari siapa yang salah. Mulailah mencari jalam keluar, Lingkungan dan Uang sama-sama harus dijaga dan cari bagaimana kita bisa mengelolanya. Allah menciptakan Bumi dan semua isinya memang untuk manusia. Manfaatkan dan mulai menjaga lingkungan.

Lakukan sebuah Inventarisasi sumber daya alam untuk semua daerah, cari sebuah titik temu. Daerah mana yang bisa di eksploitasi sumber alamnya dan mana daerah yang memang sudah kritis dan memang harus di jaga kelestariannya. Kitapun tidak bisa ideal, kalaupun ideal akan terkungkung dalam sebuah dunia primitif dan kembali ke jaman batu. Jangan di pungkiri kalau memang kita butuh kayu dari hutan, tapi jagalah hutan tersebut dan manfaatkan secukupnya, jangan berlebihan. Kita butuh tanah untuk tempat tinggal, tapi manfaatkan tanah tersebut sesuai dengan tata ruang dan kegunaan lahan tersebut.

Semuanya adalah sebuah proses… Proses dimana menuju sebuah keseimbangan alam. Ada yang harus mati dan hancur, tapi ada pula yang lahir dan lestari. Manusia memang butuh alam, tapi alam belum tentu butuh manusia. Alam beserta keanekaragaman hayatinya akan ramah pada manusia jika semua dikelola dengan seimbang. Tapi alam akan lebih kejam dari ibu kota saat dia di Dzolimi… Semua yang ada didunia ini tidak ada yang Gratis. Cobalah tengok prinsip Ekologi dalam sebuah rantai makanan (food chain) di sebuat ekosistem. Semuanya berjalan dengan teratur dan tertib berperan sesuai dengan skenario dan tidak pernah meyimpang. Ada konsumen dan produsen.

Semoga tulisan ini bisa memberikan sebuah pencerahan baru bagi kita semua. Amin…

Boy Macklin, MSi.

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply